Sukma yang Tertawan bag 1
Posted on April 25, 2009
Filed Under My LiFe, makrocosmos, mistikus | 1 Comment
“kiirriiii depan Mass” kataku pada sopir angkot yang aku tumpangi,minta untuk meminggirkan kendaraannya agar berhenti disekitar taman Centrum yang lampunya temaram malah nyaris gelap.Setelah membayar ongkos, aku berjalan melewati tengah-tengah taman yang ada bundaran tempat duduknya.Aku sedikit melamun ketika kusadari aku telah berada tengah dekat bundaran yang dijadikan untuk pot bunga yang besar dan ada lampu ditengahnya walaupun lampu itu sudah mati.
Aku terkejut manakala didepanku ada seseorang seperti seorang wanita yang sedang duduk termangu diatas tembok bundaran itu.Aku ragu untuk mendekatinya karena aku tahu ditaman itu kadang suka dijadikan tempat mangkal para waria.Tetapi malam itu begitu sepi dan udaranya begitu dingin menusuk tulang, selain sore harinya turun hujan cukup lebat malam itu juga adalah malam Jum’at yang mungkin menyebabkan orang-orang malas untuk keluar.Jam telah menunjukan hampir jam 12 malam.Tidak ada jalan lain selain melewatinya.Aku pandangi wanita itu. Aku yakinkan diri bahwa dia bukanlah waria yang sedang mangkal menunggu mangsa.Ini beda, dia seorang gadis yang menurutku bukanlah dari bangsa kita (seperti orang asing/bule).
Ketika aku beranikan diri untuk menyapanya manakala diapun menyadari keberadaanku didekatnya.Walau sedikit ragu tetapi seperti ada sesuatu kekuatan aneh yang menarik untuk aku lebih mendekat lagi.
“Hai kamu, lagi ngapain duduk ditaman tengah malam begini?”. Tanyaku kepada gadis yang sedang duduk termangu seperti menunggu seseorang itu. Dia memakai gaun berwarna krem keputih-putihan dalam mode yang kuno seperti gadis jaman dahulu.
“Aku lagi suntuk, mencari angin disini”, dia menatapku tajam dan dingin. Mata yang bulat bening berwarna keabu-abuan jelas terlihat memantulkan sinar lampu taman yang tidak begitu terang. Dia cantik dengan hidung mungil yang mancung seperti orang Eropa.
“Boleh aku sedikit ngobrol dengan kamu?”, Aku penasaran ingin tahu lebih banyak.
Dia tersenyum, kemudian menganggukan kepala tanda setuju, aku duduk disampingnya. Ada semacam perasaan aneh yang menelusup kebalik otak kecilku, seperti sedang dihipnotis. Aku jadi lupa dengan tujuanku semula yang sebenarnya hendak pulang ketempat kosanku yang berada tidak terlalu jauh dari taman Centrum itu. Kemudian aku menjulurkan tangan mengajaknya bersalaman, dia menyambutnya dengan antusias.Tangannya begitu dingin tetapi sangat lembut bagaikan kapas.
“NADIA,… NADIA VANDERLARCK atau panggil aku NANCY”.
“Ouw… sebuah nama yang bagus, panggil aku Anto”.Aku sengaja memperkenalkan nama tengahku,kemudian aku duduk disampingnya, ditembok pot bunga yang melingkar ditengah taman itu.
Hening…., kami tak saling berbicara, kesunyian malam dengan angin semilir dan dingin menusuk tulang, sesekali terdengar suara mobil atau motor yang melintas dijalan Sumbawa atau Belitung.Malam begitu sepi,lembab seperti tak ada angin yang berhembus.
Kata-kata seperti hilang. Secara tak sengaja dia beradu tatap denganku, matanya yang tajam seolah mencoba untuk mengetahui lebih akrab lagi. Kemudiaan dia tersenyum manis sekali, aku membalasnya. Kutatap wajahnya yang putih pucat dan sangat dingin.
“Sepertinya aku baru melihatmu?, kamu tinggal dimana?” aku mencoba membuka kembali pembicaraan.
“Ya…. memang kita baru pertama kali berhadapan, tapi aku sering melihatmu disekitar sini, aku tinggal digedung itu”. Nadia menunjuk sebuah kompleks bangunan tua yang ada diseberang jalan.
Aku terperanjat dibuatnya, bukankah gedung itu sekarang dipakai untuk sekolah 2 SMU favorit dikota ini, dan aku cukup mengenalnya. Aku sontak berdiri, mundur agak menjauh dua langkah dari gadis itu. Aku tidak tahu apakah wajahku memucat?. Kemudian aku memperhatikannya lebih seksama.
“Kenapa kamu terkejut seperti itu? Jangan takut aku tak sejahat yang mereka kira!”, dia seperti tahu pikiranku.
“Aku hanya ingin mencari teman saja, biar bebanku ini bisa aku ceritakan. Syukur-syukur kalau ada yang bisa menolongku”, katanya kemudian sehingga ketakutanku berkurang.
Dia mengusap rambut keemasannya yang dibelah tengah dan dibiarkan jatuh terurai sebahu, tetapi ujung rambutnya melingkar keluar.
“Maksudmu, menolong bagaimana?”, aku sudah menguasai diri.
“Bukankah kamu telah tahu cerita tentangku, walau itu tak semuanya benar!”.
“Maksud kamu cerita tentang Nancy ?”.
“Iya! Akulah Nancy itu, orang-orang mengenalku seperti itu. Padahal namaku yang sebenarnya adalah Nadia…. Nadia Vanderlarck”. Dia menatapku dengan sorot mata begitu dingin dengan raut wajah yang sedih.
Aku hanya terdiam kaku, membalas tatapannya. Otakku seperti ikut beku.
“Kamu mau tahu? dan harus tahu kisah hidupku yang sebenarnya. Mari ikut aku!!”.
Nadia mengulurkan tangan kanannya. Seperti terhipnotis aku menyambutnya, memegang erat salaman tangannya. Kemudian dia menatapku tepat dibola mataku, sehingga menembus sukmaku.
Perlahan aku dengan Nadia mulai berjalan bergandengan, memasuki sebuah jalan yang asing bagiku. Seperti sebuah lorong .Suasananya tenang dengan cahaya seperti bulan purnama. Tidak ada cahaya matahari. Semakin jauh kami melangkah, keadaan semakin terang dengan udara yang sejuk. Tidak dingin tidak panas, konstan begitu terus.
Nadia terus menuntunku memasuki halaman sebuah gedung yang megah, besar bercat putih. Di halamannya kulihat banyak orang asing, bule seperti orang-orang Eropa. Banyak anak-anak yang sebaya dengan Nadia, seperti anak sekolah. Hampir semuanya bule, tapi ada juga anak yang berkulit kecoklatan.
Kami berjalan berkeliling kesetiap lorong, ada ruang kelas, ada aula yang luas yang ditata dan penuh dengan perlengkapan sebuah bar, seperti tempat dansa. Ruang itu dihiasi lampu susun kristal. Kami terus berkeliling dengan cepat dan akhirnya Nadia membawaku kembali keluar. Aku banyak berpapasan dengan orang-orang, tetapi tak satupun aku kenal, semua asing bagiku. Tak ada yang menyapa, walau beradu bahu sekalipun.
Aku dengan Nadia berjalan menuju halaman depan dan disana ada kursi panjang dari kayu dibawah sebuah pohon yang rindang. Nadia masih memegang tangan kiriku dan kemudian menarik aku untuk duduk dibangku itu.
“Begitulah tempat aku belajar. Umurku 16 tahun waktu itu, aku tinggal disebelah bawah sana, dipemukiman khusus orang-orang Eropa”, dia menunjuk kesebelah selatan dari bangunan tadi kami berkeliling.
“Papaku seorang wakil residen di kota Parahiangan ini. Waktu umurku 15 tahun, aku pertamakali jatuh cinta pada seorang pemuda pribumi yang umurnya lebih tua 3 tahun dariku”, lanjutnya.
Aku hanya bisa memperhatikannya bicara, tak ada kata yang keluar dari mulutku.
“Nama pemuda itu Soebrata, aku memanggilnya Kang Soebrata. Dia tampan, ramah dan selalu baik padaku. Sebenarnya aku kenal dia sejak aku berumur 10 tahun. Ayahnya adalah pegawai kepercayaan papaku. Kami sering bermain bersama”, mata Nadia seperti menerawang jauh, aku hanya mendengar saja.
“Aku lahir di Denhaag tahun 1903, kata mamaku waktu aku masih berumur 5 tahunan, kami sekeluarga merantau ke Batavia. Aku masih ingat masa kecilku, aku habiskan di Batavia sampai aku berumur 10 tahunan. Entahlah mengapa keluargaku sampai ke Batavia, aku belum pernah bertanya tentang itu. Kemudian papaku ditugaskan dikota ini”, dia berhenti sejenak.
“Pada awalnya aku tidak menyadari aku mencintainya. Mungkin karena kami sering bermain bersama, diam-diam aku membutuhkannya, begitu juga kang Soebrata, diam-diam dia mengutarakan perasaannya padaku, bahwa dia mencintaiku. Aku sangat bahagia waktu itu. Begitulah kami berpacaran secara sembunyi-sembunyi, kami sangat saling menyayangi. Mama dan papa tidak tahu hubungan kami yang sebenarnya, kami menyembunyikannya bila dihadapan mereka. Hampir setahun hubungan kami aman-aman saja”, dia berhenti seperti mengingat sesuatu.
“Sampai suatu pagi yang indah, kami ketemuan disebuah taman. Taman itu sepi, rimbun dan jarang orang pergi kesana.Letaknya sebelah utara dari tempat ini. Mungkin karena seminggu sebelumnya kami tidak bertemu, aku sangat rindu padanya. Tanpa tahu siapa yang memulai kami akhirnya melakukan hubungan badan. Kami melakukannya atas dasar cinta kami, indah sekali”, matanya tampak berbinar dan tersenyum malu padaku.
Dia menarik napas panjang dan tiba-tiba roman wajahnya berubah menjadi murung, beku dan seperti sedih sekali. Dengan sedikit terbata Nancy melanjutkan ceritanya.
“Kemudian setelah beberapa bulan dari semenjak kami melakukan hubungan badan itu, malapetakapun datang. Ada seorang teman kelasku yang iri dan kemudian melaporkan hubungan percintaan kami pada papaku. Pemuda yang melaporkan itu adalah anak atasan papa, dia sebenarnya naksir padaku dan papa setuju itu, malah papa sering menjodohkan aku dengan Mayer . Mayer lebih tua 6 tahun dariku. Tapi aku tidak menyukai Mayer, karena dia sombong dan playboy, dia suka melecehkan gadis-gadis. Bahkan telah banyak gadis pribumi yang menjadi korban kebejatan moralnya”
“Mengetahui kebenaran laporan itu, jelas papa dan mama sangat marah besar padaku dan kang Soebrata. Mereka merasa malu, aib dan jabatannya terancam dengan kejadian itu. Pada jaman kami jelas aib, bila seorang gadis bangsa kami jatuh cinta pada lelaki pribumi atau “INLANDER” begitu papa menyebutnya. Apalagi aku dengan kang Soebrata melakukan hubungan lebih jauh lagi.Berita tentangku cepat menyebar, teman-teman sekolahku sering mencemoohku atau mengolok-olok aku, mereka membenciku. Sehingga pada puncaknya, papa mengusir keluarga kang Soebrata dan bahkan berencana membunuh kang Soebrata. Entahlah apakah kang Soebrata jadi terbunuh atau tidak?. Dari semenjak itu aku tidak pernah melihat dia lagi sampai sekarang, hilang entah kemana seperti ditelan bumi, kabar keluarganya pun tak pernah kudapat. Papa melakukan perbuatan jahat itu karena merasa malu, terhina, aib dan jabatannya terancam dipecat, apalagi atasan papa sudah terkena hasutan anaknya si Mayer”. Nadia mulai menitikan air mata dan jatuh meleleh dipipinya yang putih pucat.
“Sejak itu otomatis beban hidupku begitu berat, aku mendapat begitu banyak tekanan. Belum rasa rindu dan cintaku yang menggebu kepada kang Soebrata, cintaku sangat menyayat hati, rinduku padanya tak tertahankan. Papa dan mama memarahi dan membenciku, teman-temanku yang tadinya baik padaku kemudian berbalik membenci dan menghinaku. Mereka mengucilkan aku, sehingga aku tak kuat menahan beban kehidupan itu. Aku putus asa, tak ada tempat mengadu lagi, tak ada tempat berkeluh kesah, tak ada kang Soebrata”.
“Akhirnya aku menemukan suatu jalan, yaitu : “KEMATIAN”. Aku memilih jalan terakhir itu setelah sebelumnya aku memikirkan untuk lari dan mencari kang Soebrata, walau kepenjuru bumi manapun. Tapi ternyata keputus asaanku lebih kuat, meskipun beberapa bulan sebelum kami melakukan hubungan badan ditaman itu, kang Soebrata berjanji dan mengajakku merried. Aku menantikan janji itu, tapi ternyata aku kecewa karena kang Soebrata tak pernah kudengar kabarnya lagi”.
Nadia berhenti bercerita dan mengusap air matanya yang dari tadi sudah membasahi pipinya, dia terisak pilu. Aku merasa iba dibuatnya tapi kepenasarananku lebih besar.
“Jadi kamu memilih jalan kematian itu? Kenapa kamu lakukan?”. Tiba-tiba pertanyaan bego dari mulutku yang penasaran tak bisa kutahan.
“Ya!, kematian itu yang kupilih, karena kukira dengan kematian segala persoalanku akan musnah dan selesai, ternyata……, ternya….ta….“, dia terbata dan tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Nadia kelihatan semakin sedih dan pucat. Kini dia tidak berani memandangku, entah apa yang ada didalam perasaannya.
“Tapi ternyata apa Nancy?. Memang kau dengan jalan apa memilih kematian itu?, kapan?, dimana?”, kepenasaranan begoku muncul lagi.
Nancy menatapku dengan sorot ketidak pastian, marah, benci dan kesedihan yang memuncak.
“Nadia namaku!! Bukan Nancy…!!”, dia membetulkan panggilanku padanya, kali ini dengan suara yang agak tinggi.
“Maaf aku salah memanggilmu!!. Tapi tolong jawab pertanyaanku Nadia!”, seruku agak kecut.
“Aku memilih jalan kematian itu dengan cara menggantung diri didalam ruang kelasku sendiri. Malam itu umurku tepat 16 tahun, yaitu tanggal 13 Maret tahun 1919. Mama sama papa lagi mengadakan pesta dansa, menyambut tamunya dari Batavia, diruang bar diatas sana. Aku menyelinap diam-diam kedalam gudang dan berhasil mendapatkan seutas tali. Kemudian aku menyelinap keruang kelasku. Dengan menaiki meja aku berhasil mengikatkan ujung tali kegantungan lampu, dan salah satunya keleherku. Sebelum meloncat aku memanggil nama papa VANDERLARCK, mama MEREDITH dan kang SOEBRATA, kemudian……., kemudian yang terasa adalah sakiiit sekali, sakit tiada terkira. Lalu aku tak lagi ingat apa-apa”, Nadia meringis ngeri.
“Jadi, kau bunuh diri dalam keadaan sadar?”.
Kemudian aku berdri dihadapannya, menatapnya dengan penuh keheranan dan sedikit rasa takut.
“Iya memang, dalam keadaan sadar tapi penuh dengan keputus asaan”, jawabnya terisak.
“Selanjutnya apa yang terjadi pada diri kamu Nadia?”, kepenasarananku ingin rasanya kuhabiskan detik itu juga.
“Ternyata aku menyesal, aku kira semuanya akan berakhir dengan baik. Tapi ini adalah sebuah kekeliruan yang nyata, aku tersesat dan sampai sekarang tak pernah menemukan jalan yang kumaksud”.
“Maksud kamu, tersesat bagaimana?”, aku memotong pembicaraannya dan aku masih berdiri.
“Begini….! setelah aku ingat dan kesadaranku pulih, aku melihat tubuhku masih tergantung dengan lidah yang menjulur, mata membeliak keatas dan dari hidung serta telingaku mengucurkan darah, sedangkan wajahku jadi biru. Sungguh aku kaget melihat keadaanku yang mengenaskan itu, aku menjerit sejadi-jadinya. Menjerit memanggil mama, memanggil papa dan memanggil kang Soebrata. Aku menangis, kemudian berlari mencari mereka. Dan ternyata aku bisa menembus tembok dan seketika itu sampai diruang bar tempat mereka berdansa. Sambil menangis keras, aku panggil mama Meredith,kupeluk dan kuguncang-guncang tubuhnya, tapi sepertinya mama tidak mendengar dan merasakan apa yang kulakukan. Dia tetap berdansa dan tertawa-tawa dengan laki-laki yang tak kukenal, begitu juga papaku dan yang lain. Mereka tidak melihat dan mendengar teriakanku. Akhirnya aku capek lalu kembali ketempat tubuhku yang tergantung, kucoba untuk masuk lagi, tapi itu tidak bisa. Hanya sia-sia saja. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku menangis sejadi-jadinya, menangis dan terus menangis. Kuterpuruk disudut ruang kelas sambil meratapi keputus asaanku”, Nadia terdiam, lalu dia melanjutkan ceritanya.
“Sampai matahari bersinar aku masih tetap diruangan itu. Dan tubuhku yang tergantung baru ditemukan oleh teman sekelasku TASYA OLDMARK yang datang paling awal. Dia menjerit sejadi-jadinya ketika melihat tubuhku, kemudian dia jatuh pingsan”.
Nadia menangis keras, melengking, memiriskan hati, membuat bulu kuduk meremang dan menggetarkan jiwa yang mendengarnya. Ingin rasanya aku berlari meninggalkannya, tapi aku tak bisa begitu saja keluar dari lingkaran itu. Selain penasaran dengan kisahnya, aku malah jadi kasihan padanya. Ingin pada waktu itu memeluknya dan kemudian membawanya entah kemana.
Aku mencoba menyentuhnya, memegang tangannya. Terasa lembut dan dingin seperti salju. Entah kenapa seperti ada kekuatan yang menuntun tanganku untuk membelai rambutnya. Akh…aku seperti menyentuh kapas yang terembun, lembut tapi dingin. Nadia mengurangi tangisannya,dia kini hanya terisak-isak.
“Sudahlah Nadia…!! Tak usah kau menyesalinya terlalu dalam,itu mungkin sudah suratan takdir”. Aku mencoba menhiburnya, apakah dia mengerti ucapanku atau tidak.
“Aku tidak bermaksud membuatmu sedih dengan kamu bercerita kisahmu ini. Tapi aku ingin kau menyelesaikannya untukku, biar aku menuliskannya sehingga orang tahu kisahmu yang sesungguhnya. Bukankah kau yang menginginkannya?”.
Aku kembali duduk disampingnya. Udara tetap lembab dengan cahaya tetap seperti terang bulan purnama.
Bersambung ke sukma yang tertawan bag 2
Comments
One Response to “Sukma yang Tertawan bag 1”
Leave a Reply
My Name: Dede Anto Sapnudin. Nick name: Adeanto, people call me: Ade, Male, still single. Energy Pranic Healer, Energy Illahi Healer, Parapsicology. Work as HRD at http://www.qwords.com and UPP Kota Bandung. I like Photography, Psicology, Football, Blogging, Reading, Every music and Everything new .
wah, keren mang!!!
lanjutkan!!!
-yk-