Sukma yang Tertawan bag 2
Posted on April 25, 2009
Filed Under My LiFe, makrocosmos, mistikus | Leave a Comment
Sambungan dari bag 1
“Maukah kau melanjutkan cerita kisahmu itu?”. Aku bertanya setengah membujuk, seperti kepada adik kecilku yang ngambek. Nadia menganguk pelan, lalu dia bersiap dengan ceritanya.
“Mama dan papa begitu shock/terpukul melihat kenyataan itu. Mama pingsan, aku begitu sedih melihatnya, aku menyayangi mama. Papa kelihatan sangat menyesal dengan kejadian itu, tapi penyesalan itu sudah terlambat. Orang-orang berkerumun lalu menurunkan tubuhku yang sudah kaku. Aku masih tetap diruangan itu, kucari-cari kang Soebrata, tetapi aku tidak melihatnya, aku penasaran. Ketika aku hendak mencari keluar dari gedung ini, ada cahaya yang panas dan menyilaukan pandanganku. Itu ternyata cahaya matahari, sampai sekarang terkadang aku tidak bisa menahan atau melawan cahaya matahari”.
“Aku tetap terkurung di gedung ini, ketika tubuhku dibawa oleh mereka entah kemana. Biarlah aku tidak ingin memperdulikannya”. Nadia berhenti sejenak, menunduk dalam-dalam, lalu melanjutkan kisahnya.
“Berita kematianku cepat menyebar, disekolahku gempar. Sehingga beberapa hari kemudian mama dan papa pindah keBatavia. Aku tidak bisa ikut, aku tidak bisa kemana-mana karena masih kuharap kang Soebrata akan muncul, tetapi penantianku sia-sia.Aku sedih dan kecewa. Hampir 40 hari aku terkurung dialam yang disana, aku hanya bisa menyesal dan kadang menangis. Untuk menghibur diri terkadang pada malam hari aku melayang mengitari kompleks bangunan ini. Aku juga suka pergi ketaman tempat kami melakukan percintaan pertama kali, aku mengenangnya, menanti janjinya kang Soebrata. Selama 40 hari itu aku tersiksa, aku juga berusaha mencari JALAN MENUJU TUHAN, KATANYA KALAU KITA MATI, KITA DIAMBIL TUHAN. TAPI TERNYATA TAK ADA JALAN MENUJU TUHAN DISINI!!. Mungkin CARA KEMATIANKU YANG SALAH. AKU TERLALU BANYAK DOSA BESAR YANG TAK TERAMPUNI!!”, Nadia mengutuk menyesali diri.
“Nadia!, aku pernah dengar bahwa kau suka menampakan diri, suka memainkan piano dan kau suka menjerit, menangis menyayat hati. Benarkah itu?”.
“Kadangkala bila aku ingin memberitahukan keberadaanku pada orang, aku mencoba menampakan diri, dengan jalan sebelumnya aku harus membesarkan energiku dulu. Itupun penampakanku hanya bisa beberap saat saja. Kadangkala aku juga suka terhadap lagu-lagu classic seperti Sonata in C mayornya Mozart atauBach; Concerto in D Minor, aku juga suka memainkan Piano Sonata No 8 in C Minor dari Beethoven. Aku bisa memainkannya karena aku belajar sewaktu masih di Batavia dan disini mama memanggilkan guru les musik kerumah. Di gedung ini ada piano yang sering aku mainkan. Tapi bila aku mengingat semua kisah hidupku aku sering menangis sambil menjeerit-jerit, terutama bila aku ingin keluar dari LINGKARAN PENJARA SETAN ini”. Nadia berhenti bicara dan wajahnya seperti menahan ketakutan yang sangat.
“Lingkaran penjara setan? Maksudmu apa?”, aku tidak mengerti.
“Inilah penyesalan yang paling besar dari segala penyesalanku. Pada hari ke 41 dari aku bunuh diri, ketika kesedihanku memuncak, entah kenapa waktu itu seperti ada kekuatan yang besar, yang menyedotku masuk kealam yang seperti sekarang ini. Aku berusaha melawan kekuatan atau energi itu,tapi aku tak kuat. Seperti ada tangan sangat besar yang menahan dan menangkapku. Ketika aku menyadarinya, aku berada dalam genggaman sebuah tangan dari sesuatu makhluk yang sangat menyeramkan. Aku berontak dan meronta-ronta tapi sia-sia dan makhluk itu berkata;”Hai sukma manusia laknat, akulah raja jin disini,yang kini menguasai sukmamu. Akan kutawan kau dipenjara setanku. Kau tidak akan kulepaskan sampai alam ini berakhir, sampai TUHAN MENEPATI JANJINYA PADA HARI KIAMAT”. Ya, aku ternyata masuk kealam jin, aku ditawan oleh raja jin disini. Aku tak bisa kemana-mana, selain atas suruhan dan kekuatan energinya. Dialam ini aku tak bisa lagi menghitung hari, karena disini tak ada sinar matahari, terang selamanya seperti ini tak bisa membedakan siang dan malam. Dikeraguan ini juga aku melihat banyak tawanan manusia yang lain, kadang baru datang dan masih sangat muda. Mereka banyak yang dijadikan budak dan disiksa, tetapi ada juga yang sedikit beruntung, dipaksa dikawinkan dengan putra-putri raja atau bangsa jin lain. Aku juga sedikit beruntung tidak dijadikan budak oleh mereka, ataupun dikawinkan dengan bangsa mereka. Kini aku diberi tugas menggoda manusia, menyesatkan dan merasuki mereka yang energi dan keimanannya lemah”, Nadia diam beberapa saat.
“Aku kira tugas ini ringan, ternyata aku malah tersiksa lagi. Ketika aku harus merasuki seseorang,aku harus mengumpulkan banyak energi. Dan bila aku berhasil merasukinya, aku juga harus perang dengan orang yang berusaha menyembuhkannya. Aku sering dibantu oleh tuan TAKSAKA Raja JIN yang menawanku ini. Pernah suatu kali aku merasuk keseorang perempuan yang sebaya denganku dan orang yang mengeluarkan aku, berhasil memotong-motong tubuh halusku. Sakit….sakit sekali tak tertahankan, seketika itu aku tersedot kembali kealam jin, dan seketika itu pula aku sehat kembali. Semenjak itu aku jarang merasuk ketubuh orang. Yang kulakukan adalah teknik baru yang aku pelajari dari tuan TAKSAKA. Yaitu; aku hanya tinggal mengganggu gelombang otaknya dengan energiku. Aku mengzam kelenjar pineal diotaknya, menyentuhnya dan itu selalu berhasil dengan baik. Orang itu bisa berbuat diluar kesadarannya, tergantung aku menginginkannya. Cara seperti ini adalah yang paling sulit bagi orang untuk menyembuhkannya”.
Mimik wajah Nadia berubah-ubah, dia berhenti sambil membetulkan letak duduknya lebih rapat padaku, aku bergeser mengambil jarak. Kemudian Nadia melanjutkan ceritanya.
“Sering aku tidak mau melakukan tugasku, sesering itu pula aku mendapat siksaan dari tuan Taksaka. Mereka kejam dan tak punya perasaan. Karena tidak kuat menerima siksaan, beberapa kali aku mencoba kabur dari penjara ini. Tapi malah energiku semakin surut, aku semakin lemah. Aku ingin kabur !!. Aku ingin keluar dari alam ini!. Aku ingin MENEMUI TUHAN!!. BIARLAH AKU MENDAPAT SIKSA DARI TUHAN,TETAPI TIDAK DARI MAKHLUK JIN JAHAT ITU. Tolonglah, keluarkan aku dari penjara ini!. Tolonglah….!!, kau bisa menolongku??”. Nadia menatapku seperti meratap dan sorot matanya begitu mengharap.
Aku hanya terdiam lalu tercenung,tak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku bertanya dalam hati, mampukah aku menolongnya?. Dengan cara apa……?. Dengan energi yang aku punyakah…..?. Ataukah dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang aku pelajari….?. Sekali lagi aku hanya menyisakan tanya dalam hati.
Nadia memegang tanganku erat-erat, seolah tidak ingin melepaskanya. Wajahnya semakin menampakan ketakutan, kemudian dia bergumam:
“Dia datang!!, tuan Taksaka datang!. Sepertinya dia mengetahui keberadaanmu dan pembicaraan kita”.
Dia berdiri kemudian merapatkan tubuhnya padaku yang sudah berdiri dari tadi. Dia memandang penuh ketakutan kearah bangunan gedung berdiri.
Aku juga merasakannya, ada energi yang datang dari arah puncak gedung. Energi yang cukup besar dan terasa panas.
Sejenak kemudian aku melihat seberkas cahaya kemerah-merahan, berputar seperti berpilin kencang datang dari arah puncak bangunan itu. Cahaya itu semakin lama semakin besar dan jelas membentuk sebuah bayangan yang baru aku lihat, sesosok makhluk yang menyeramkan.
Aku kaget karena secara tiba-tiba makhluk itu telah berada dihadapanku dan Nadia. Aku mencoba menatap dan memperhatikannya, walau lututku gemetaran dengan persendiaan yang serasa copot.
Oh!!, inikah raja Jin si Taksaka itu?. Rutukku dalam hati sambil memperhatikan bulu -bulu ditubuhnya yang lebat berwarna hitam kemerah-merahan. Tubuhnya yang hampir setinggi empat meteran, dengan perawakan yang besar. Tampak begitu menjulang tinggi dihadapan kami. Matanya merah menyala begitu tajam menatap kami. Nadia Vanderlarck terlihat begitu ketakutan sehingga tubuhnya nampak menggigil, dia masih merapatkan tubuhnya pada tubuhku dan aku spontan memeluknya.
Aku mencoba membalas tatapan si Taksaka dengan jalan memusatkan energi batinku pada kedua mataku. Dia nampak marah dan menatapku semakin tajam. Aku mengakhiri tatapanku dengan jalan mengalihkan perhatianku, kekedua telinganya yang besar dan runcing seperti telinga kelinci. Diatas telinga itu tumbuh dua buah tanduk yang runcing dan panjang, seperti tanduk kerbau tetapi lurus.
Aku perhatikan hidungnya yang pesek, dengan ujung hidung yang besar. Dan ditengah antara kedua lobangnya dipasang anting-anting besar yang mengkilap, entah terbuat dari apa benda itu. Mulutnya yang lebar menyeringai padaku, tampak gigi-giginya yang kotor dengan empat buah taring begitu runcing. Dari mulutnya keluar semacam lendir berwarna hitam dan mengeluarkan bau busuk yang menyengat, bercampur dengan bau badannya yang apek, bau pesing. Rupa wajahnya tidak begitu jelas karena selain tertutup rambutnya yang gimbal juga ditumbuhi bulu-bulu yang lebat. Atau kata orang, mungkin sudah merupakan rahasia bangsa Jin bila menampakan diri pada manusia, maka dia tidak akan pernah meperlihatkan rupa wajahnya yang asli, walaupun itu berada dialamnya sendiri.
Taksaka mempunyai dua tangan yang besar dan panjang menjuntai, hamper mencapai lututnya. Jari-jarinya besar hitam dihiasi dengan kuku-kuku panjang, runcing dan hitam kotor. Selain itu dia juga mempunyai ekor yang ujungnya mengait, tetapi tidak terlalu panjang.
Ketika aku memperhatikannya, tiba-tiba saja dia menjulurkan tangannya, memegang leher Nadia dan kemudian dalam satu kali tarikan Nadia telah berada didalam cengkramannya. Aku kaget dibuatnya sehingga aku hanya terbengong saja.
“Hey…! Sukma manusia laknat, waktumu kali ini telah hampir habis…!. Kembalilah kau kepenjara setanku…!”. Si Taksaka memarahi Nadia sambil mendekatkan wajahnya Nadia ke mulutnya yang berlendir itu. Matanya yang merah menyala melotot seperti hendak keluar.
Nadia meringis, berusaha berontak untuk lepas dari cengkraman tangan Taksaka.
“Ampuuun Tuan…!, Kali ini tolong lepaskanlah saya. Biarkan saya menemui Tuhan !. Biarkan saya bebas untuk menerima hukuman dari Tuhan !”, Nadia memelas sambil menahan sakit akibat cengkraman tangan Taksaka.
” Tidak…!, tidaak akan pernah terjadi!, sampai dunia ini kiamat , aku tidak akan pernah melepaskan tawananku. Karena itu adalah merupakan komitmen bangsa kami dan permintaan kami kepada Tuhan”. Suara Taksaka begitu menggelegar, keras dan mengetarkan hati orang yang mendengarnya.
“Anto..! Tolong Nadia…!, lepaskan aku dari cengkraman tangannya!”. Nadia menatapku dengan wajah yang penuh harap padaku.
Aku masih terdiam, tak tahu apakah aku bisa melawan Jin Taksaka. Harus dengan apa aku membebaskannya?. Mampukah aku melawannya?, mampukah aku membebaskanya?. Haruskah aku membebaskannya?. Ini adalah beberapa pertanyaan besar, yang mungkin aku tidak bisa menjawabnya dengan kenyataan.
“Hey, anak Adam !!. Aku Taksaka, aku yang mengatur kerajaan dan rakyatku didaerah ini. Kau tak boleh ikut campur tehadap urusan bangsa kami!. Alam kamu dengan alam kami berbeda. Kalian hidup dialam kasar, sedangkan kami hidup dialam halus”. Taksaka berbalik kearahku, memandangku seperti menyepelekanku. Dia mendengus keras-keras.
“Taksaka …! Aku tidak bermaksud ikut campur terhadap urusan bangsamu. Bangsa kami tidak membutuhkanmu, kami punya Tuhan tempat kami dan seluruh makhluk dijagat raya ini meminta, memohon perlindungan. Termasuk seluruh bangsamu, harus tunduk terhadap perintah-Nya”.
“Tolong Taksaka…!! Lepaskanlah sukma bangsa kami, sukma Nadia dengan yang lain yang telah kau tawan!. Tuhan tidak memerintahkan kita makhluk-Nya untuk saling menyakiti, dan saling memusuhi. Sebaliknya, Tuhan memerintahkan kita, untuk saling mengenal, saling menghormati, saling menyayangi dan bekerja sama untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Aku berusaha mempengaruhinya agar dia mau melepaskan Nadia dan yang lain yang telah mereka tawan.
Aku memusatkan energiku melalui kedua mataku. Aku kembali memandang matanya yang merah menyala.
“Tidak….. , tidak bisa begitu saja kami melepaskan sukma yang telah kami tawan. Itu bukan kesalahan atau keserakahan bangsa kami menawan sukma bangsa manusia. Tetapi juga merupakan kesalahan bangsamu juga, yang telah menempuh kematiaan dengan cara yang tidak diridoi oleh Tuhan. Atau ada sebagian bangsamu yang telah mengadakan perjanjian dengan bangsa kami”.
“Maksud kamu, mengadakan perjanjian apa?”. Aku tidak mengerti dengan pernyataanya.
“Begini, hey anak Adam!. Ada sebagian bangsa manusia yang mengadakan perjanjian dengan bangsa kami, yang memiliki kemampuan dan kekayaan untuk membantu manusia itu, didalam hal meraih keinginan mereka”. Kini Taksaka mulai melepaskan Nadia dari cengkramannya. Nadia menjauhi Taksaka dan beberapa langkah mendekatiku.
“Apa saja keinginan mereka itu?”. Aku bertanya lagi.
“Misalnya bangsamu menginginkan kekayaan atau kekuatan, lalu memintanya kepada bangsa kami, tidak kepada Tuhan. Maka kami mengadakan perjanjian timbal balik dengan mereka. Kami berikan kekayaan atau kekuatan, maka kami meminta imbalan kepada mereka. Imbalan itu berupa tumbal jiwa manusia, untuk kami jadikan budak atau pemuas nafsu kami. Jika manusia itu tidak bisa lagi memberikan tumbal atau persembahan kepada kami, maka kami ambil paksa jiwanya mereka. BEGITULAH BILA MENGADAKAN PERJANJIAN DENGAN BANGSA KAMI MAKA BANGSA KAMI AKAN MENEPATINYA. BERBEDA DENGAN BANGSAMU YANG SERING MENGINKARI PERJANJIAN”.
“Aku mengerti sekarang!. Ternyata banyak bangsa kami yang meminta kekayaan atau kekuatan kepada bangsa Jin sepertimu, bukan kepada Tuhan. Tapi mengapa kaummu mau melakukannya?”. Aku balik bertanya kembali.
“Banyak bangsa kami yang mengingkari perintah dan larangan Tuhan, kami melakukan itu untuk mencari teman sebanyak-banyaknya agar dihari pembalasan nanti kami mempunyai pengikut bukan saja bangsa kami sendiri. Tetapi banyak juga bangsa kami yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan seru sekalian alam. Namun aku dengan rakyatku termasuk kaum yang tidak mau beriman kepada Tuhan. Karena kami telah mengikat dan sepakat untuk mengikuti nenek moyang kami Tuanku AZAZIL (DAZZLU) yang telah Tuhan kutuk. Nenek moyang kami adalah “IBLISS atau ABLASSA”. Kami telah meminta ijin kepada Tuhan untuk menggoda bangsamu, sekalipun yang beriman”.
“Sesunguhnya telah banyak bangsa manusia yang tertipu oleh muslihat dan perangkap bangsa kami. Banyak diantara mereka yang tidak menyadari perbuatannya itu telah masuk kedalam perangkap kami. Secara tidak sadar mereka telah bersekutu dengan bangsa kami”.
Bersambung ke Sukma yang Tertawan bag 3
Comments
Leave a Reply
My Name: Dede Anto Sapnudin. Nick name: Adeanto, people call me: Ade, Male, still single. Energy Pranic Healer, Energy Illahi Healer, Parapsicology. Work as HRD at http://www.qwords.com and UPP Kota Bandung. I like Photography, Psicology, Football, Blogging, Reading, Every music and Everything new .