Sukma yang Tertawan bag 3

Posted on April 25, 2009
Filed Under My LiFe, makrocosmos, mistikus | Leave a Comment

Sambungan dari bag 2

Jin Taksaka menerangkan dengan panjang lebar mengenai kebusukan dan kelicikan bangsa mereka dan tertipunya manusia oleh perangkap bangsa Jin.

“Lalu kenapa kau tidak membebaskan dia!”, aku menunjuk kearah Nadia yang masih berdiri ketakutan.

“Apakah dia juga termasuk kedalam golongan orang yang mengadakan perjanjian denganmu?”.

“Bukan…! Dia bukan termasuk manusia yang punya perjanjian dengan kami. Tetapi dia menjadi tawananku, karena dia mati dengan cara yang tidak diampuni Tuhan. Aku menangkap sukmanya, ketika dia masih melayang-layang tidak mengetahui arah tujuan. Selain itu aku menyukainya dan memberikan tugas untuknya”. Taksaka melangkah menghampiri Nadia yang semakin ketakutan.

Read more

Sukma yang Tertawan bag 2

Posted on April 25, 2009
Filed Under My LiFe, makrocosmos, mistikus | Leave a Comment

Sambungan dari bag 1

“Maukah kau melanjutkan cerita kisahmu itu?”. Aku bertanya setengah membujuk, seperti kepada adik kecilku yang ngambek. Nadia menganguk pelan, lalu dia bersiap dengan ceritanya.

“Mama dan papa begitu shock/terpukul melihat kenyataan itu. Mama  pingsan, aku begitu sedih melihatnya, aku menyayangi mama. Papa kelihatan sangat menyesal dengan kejadian itu, tapi penyesalan itu sudah terlambat. Orang-orang berkerumun lalu menurunkan tubuhku yang sudah kaku. Aku masih tetap  diruangan itu, kucari-cari kang Soebrata, tetapi aku tidak melihatnya, aku penasaran. Ketika aku hendak mencari keluar dari gedung ini, ada cahaya yang panas dan menyilaukan pandanganku. Itu ternyata cahaya matahari, sampai sekarang terkadang aku tidak bisa menahan atau melawan cahaya matahari”.

“Aku tetap terkurung di gedung ini, ketika tubuhku dibawa oleh mereka entah kemana. Biarlah aku tidak ingin memperdulikannya”. Nadia berhenti sejenak, menunduk dalam-dalam, lalu melanjutkan kisahnya.

“Berita kematianku cepat menyebar, disekolahku gempar. Sehingga beberapa hari kemudian mama dan papa pindah keBatavia. Aku tidak bisa ikut, aku tidak bisa kemana-mana karena masih kuharap kang Soebrata akan muncul, tetapi penantianku sia-sia.Aku sedih dan kecewa. Hampir 40 hari aku terkurung dialam yang disana, aku hanya bisa menyesal dan kadang menangis. Untuk menghibur diri terkadang pada malam hari aku melayang mengitari kompleks bangunan ini. Aku juga suka pergi ketaman tempat kami melakukan percintaan pertama kali, aku mengenangnya, menanti janjinya kang Soebrata. Selama 40 hari itu aku tersiksa, aku juga berusaha mencari  JALAN MENUJU TUHAN, KATANYA KALAU KITA MATI, KITA DIAMBIL TUHAN. TAPI TERNYATA TAK ADA JALAN MENUJU TUHAN DISINI!!. Mungkin  CARA KEMATIANKU YANG SALAH. AKU TERLALU BANYAK DOSA BESAR YANG TAK TERAMPUNI!!”, Nadia mengutuk menyesali diri.

Read more

Sukma yang Tertawan bag 1

Posted on April 25, 2009
Filed Under My LiFe, makrocosmos, mistikus | 1 Comment

“kiirriiii depan Mass” kataku pada sopir angkot yang aku tumpangi,minta  untuk meminggirkan kendaraannya agar berhenti disekitar taman Centrum yang lampunya temaram malah nyaris  gelap.Setelah membayar ongkos, aku berjalan  melewati tengah-tengah taman yang ada bundaran tempat duduknya.Aku sedikit melamun ketika kusadari aku telah berada tengah dekat bundaran yang dijadikan untuk pot bunga yang besar dan ada lampu ditengahnya  walaupun lampu itu sudah mati.

Aku terkejut manakala didepanku ada seseorang seperti seorang wanita yang sedang duduk termangu diatas tembok bundaran itu.Aku ragu untuk mendekatinya karena aku tahu ditaman itu kadang suka dijadikan tempat mangkal para waria.Tetapi malam itu begitu sepi dan udaranya begitu dingin menusuk tulang, selain  sore harinya turun hujan cukup lebat malam itu juga adalah malam Jum’at yang mungkin menyebabkan orang-orang malas untuk keluar.Jam telah menunjukan hampir jam 12 malam.Tidak ada jalan lain selain melewatinya.Aku pandangi wanita itu. Aku yakinkan diri bahwa dia bukanlah waria yang sedang mangkal menunggu mangsa.Ini beda, dia seorang gadis yang menurutku bukanlah  dari bangsa kita (seperti orang asing/bule).

Ketika aku beranikan diri untuk menyapanya manakala diapun menyadari keberadaanku didekatnya.Walau sedikit ragu tetapi seperti ada sesuatu kekuatan aneh yang menarik untuk aku lebih mendekat lagi.

“Hai kamu, lagi ngapain duduk ditaman tengah malam begini?”. Tanyaku kepada gadis yang sedang duduk termangu seperti menunggu seseorang itu. Dia memakai gaun berwarna krem keputih-putihan dalam mode yang kuno seperti gadis jaman dahulu.

“Aku lagi suntuk, mencari angin disini”, dia menatapku tajam dan dingin. Mata yang bulat bening berwarna keabu-abuan jelas terlihat memantulkan sinar lampu taman  yang tidak begitu terang. Dia cantik dengan hidung mungil yang mancung seperti orang Eropa.

“Boleh aku sedikit ngobrol dengan kamu?”, Aku penasaran ingin tahu lebih banyak.

Dia tersenyum, kemudian menganggukan kepala tanda setuju, aku duduk disampingnya.  Ada semacam perasaan aneh yang menelusup kebalik otak kecilku, seperti sedang dihipnotis. Aku jadi lupa dengan tujuanku semula yang sebenarnya hendak pulang ketempat kosanku yang berada tidak terlalu jauh dari taman Centrum itu. Kemudian aku menjulurkan tangan mengajaknya bersalaman, dia menyambutnya dengan antusias.Tangannya begitu dingin tetapi sangat lembut bagaikan kapas.

“NADIA,… NADIA VANDERLARCK atau panggil aku NANCY”.

Read more